Copyright by World Economic Forum / Sikarin Thanachaiary

VISI MENTERI NADIEM MAKARIM BIKIN WAS-WAS ORANG TUA MURID

Posted on

VISI MENTERI NADIEM MAKARIM BIKIN WAS-WAS ORANG TUA MURID

Visi menteri Nadiem Makarim , untuk mencetak lulusan sekolah yang handal demi memenuhi kebutuhan dunia usaha membuat sebagian orang tua murid was- was.

Mereka mengawatirkan bakalan ada perubahan kurikulum secara masif demi menopang target besar yang pemerintah siapkan untuk angkatan kerja baru.

Seperti diketaui hingga kini Nadiem masih menyusun program kerja nyatanya yang diklaim akan ditopang dengan penggunaan teknologi terkini.

Namun pemerintah secara umum menyebutkan perubahan kebijakan besar hanya akan berdampak pada sekolah menengah kejuruan (SMK).

Disebutkan ada seorang orang tua murid (Wulan), warga tangerang, menyebut anaknya yang kini berstatus siswa sekolah dasar, kehilangan banyak waktu bermainnya setelah pihak sekolah menerapkan Kurikulum 2013 (K13), pada dua tahun yang lalu.
Anak Wulan yang kini menempuh pendidikan dasar di sekolah berbasis alam dan aktivitas luar ruangan.

Disebutkan saat anaknya naik kelas empat, pihak sekolah memutuskan menerapkan kurikulum berbasis tematik yang sebenarnya sudah dijalankan di sekolah negeri sejak tahun 2013.

Menurut Wulan anaknya mulai dari kelas satu sampai kelas tiga, anaknya tidak belajar pelajaran formal, setelah kelas empat dia baru menjalani ujian.

“Sekarang beban akademiknya anak sekolah tinggi, sehingga saya harus memasukkannya ke layanan bimbingan belajar. Melihat materi ujian nasional yang sekarang, saya khawatir dia tidak bisa mengejar,” ujarnya.

Wulan mengakui kini dirinya khawatir pada pernyataan Nadiem tentang orientasi pendidikan yang kini akan menyasar pasar tenaga kerja.

Yang dia khawatirkan anaknya akan kembali menghadapi perubahan kurikulum dan hanya akan di didik menjadi generasi yang terpatok pada pekerjaan formal.
“Apakah anak-anak hanya akan diarahkan untuk bekerja secara formal? harusnya kurikulum mengakomodasi kecerdesan setiap anak yang berbeda, dan matematika bukan untuk setiap orang.”

“Bagaimana dengan anak yang berbakat dalam bidang seni? Saya khawatir nantinya mimpi mereka akan dimatikan oleh kurikulum yang hanya berpatokan pada kerja,” kata Wulan.

Baca Juga >>>  Permintaan Penundaan Pembacaan Tuntutan Sidang Ahok Oleh Polda Metro Bermuatan Politis

Dalam beberapa kesempatan pada awal kinerjanya akhir Oktober ini, Nadiem menyebut ada dua fokus kinerjanya ke depan, salah satunya dia akan berfokus pada penyelarasan kurikulum untuk mempersiapkan peserta didik menghadapi dunia kerja.

Sedangkan fokusnya yang lain adalah untuk penerapan teknologi untuk memperkuat soft skill peserta didik.

Namun menurut Itje Chodijah, salah satu anggota Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah, menilai kurikulum itu tak perlu lagi diubah untuk membentuk angkatan kerja yang andal. Karena secara konsep dan filosofis K13 sudah memuat visi tersebut.

“Kurikulum K13 sebenarnya sudah mengarah ke sana, yang perlu dipikirkan sekarang adalah bagaimana membuat guru mampu menerapkannya secara efektif di kelas sehingga siswa terdampak,” kata Itje dalam via telepon.

“Didalam dunia kerja membutuhkan orang yang memiliki soft skill dan kemampuan berpikir kritis. Ini yang harusnya digarap dalam jenjang pendidikan apapun,” ucapnya.

Menurut Ketua Forum Guru Independen Indonesia, Tetty Sulastri, Kalaupun perubahan kurikulum nantinya bakal diterapkan, dia menilai pemberlakukannya hanya untuk sekolah menengah kejuruan (SMK).

Kata Tetty sejak awal pembentukannya, hanya sekolah SMK yang diharapkan meluluskan peserta didik yang sudah siap kerja tanpa perlu melalui jenjang universitas.

“Dalam kurikulum SMA kan memang tidak mengarah ke sana, apakah harus diubah lagi kurikulumnya? Apakah anak SMA yang masih harus melaju ke pendidikan tinggi atau mereka harus sudah dikenalkan ke dunia kerja?” ujar Tetty.

Dari sembilan hari usai pelantikannya, Nadiem masih urung mengumumkan langkah yang akan diambilnya untuk dunia pendidikan. Selama seratus hari kerja pertamanya, ia berencana akan menyaring masukan dari setiap pihak-pihak yang berkepentingan.

Bagaimanapun, nantinya kebijakan pendidikan yang bakal diambil oleh Nadiem diklaim tak bakal berbeda jauh dengan pendahulunya, Muhadjir Effendy.

Baca Juga >>>  Erdogan Desak Umat Islam Bersatu Lindungi Al-Aqsha

Deputi Pendidikan dan Agama di Kementerian Koordinasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Agus Sartono, menyebut perbaikan kualitas tenaga kerja di lembaga pendidikan merujuk ke SMK.

Data dari Badan Pusat Statistik mencatat, dari total 6,8 juta pengangguran per Februari 2018, kebanyakan di antaranya adalah siswa lulusan SMK.

Ketidaksesuaian dari lulusan SMK dengan dunia kerja didasarkan pada kesempatan magang yang kurang. Dan kunci supaya sesuai, mereka tidak hanya diajarkan teori tapi kesempatan mengetahui kenyataan di dunia kerja.”

“Kurikulumnya juga harus dibenahi oleh pengguna lulusan dan kementerian. Anak-anak sekolah di didik, lalu ke,udian melakukan magang. Tanpa magang, mereka akan gamang saat terjung kedunia kerja,” tuturnya.

Menurutnya rencana jangka panjang pemerintah adalah menyederhanakan kurikulum SMK. Selain itu, dalam jangka lima tahun ke depan sekitar 5.000 SMK ditargetkan terlibat dalam program magang yang sudah digagas pemerintah dan dunia usaha.

“Sekolah SMK belum jadi pilihan utama karena akses magang yang masih kurang sehingga banyak lulusan menganggur. Akhirnya memunculkan lulusan SMK yang sulit mendapatkan pekerjaan.”

“Lingkaran setan seperti itu harus diperbaiki, supaya lambat laung orang tidak hanya mengejar gelar tapi juga peluang pekerjaan. karena tujuan akhir sekolah dan kuliah adalah mendapat pekerjaan, bukan sekedar hanya untuk mendapat gelar,” kata Agus.

Pada tahun 2020 nanti, Kemendikbud akan mendapat anggaran sebesar Rp35,7 triliun dari pemerintah. Tak cuma soal kurikulum saja, para praktisi pendidikan menilai Nadiem juga perlu menilik soal keterjangkauan pendidikan hingga kualitas dan kesejahteraan para guru-guru.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *