foto/baranewsaceh.co

Siksaan Pedih Bagi Pemimpin Yang Zalim Terhadap Rakyatnya

Posted on 165 views

Muslimpos Kepemimpinan adalah amanah yang bukan hanya dipertanggungjawabkan kepada rakyat tetapi juga kepada Allah SWT. Islam mengajarkan seorang pemimpin harus memenuhi kewajibannya berbuat adil kepada rakyat, dan juga mengabdikan diri sebagai pelayan rakyat.

Sebagaimana firman-Nya dalam al-Qur’an,

إِنَّ اللّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاء ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

”Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (QS anNahl [16]: 90).

Perintah kepada para pemimpin agar tidak berbuat kejam dan zalim kepada rakyatnya merupakan pilar membangun suatu bangsa. Kezaliman yang dimaksud diantaranya penindasan dan perampasan hak-hak rakyat. Pemimpin juga diperintahkan untuk menyeru dan mencegah terjadinya perbuatan munkar. Bukan hanya diam melihat keterpasungan rakyatnya dalam penderitaan, sementara dirinya hidup dalam kemewahan.

Bahkan, Rasulullah pernah berdoa, yang artinya, “Ya Allah, barangsiapa yang memegang urusan umatku (memimpin rakyat) lalu ia bersikap kejam, maka kejamilah dirinya. Dan barang siapa memegang urusan umatku dan ia bersikap sayang, maka sayangilah dirinya.” (Riwayat Muslim).

Sungguh, sebaiknya-baiknya umat yang saling mencintai. Pemimpin mencintai rakyatnya dan rakyat mencinta pemimpinnya. Pemimpin selalu mendoakan kesejahteraan untuk rakyatnya dan rakyatnya mendoakan kebaikan untuk pemimpinnya. Maka, sikap saling peduli inilah yang akan menumbuhkan rasa cinta, kasih sayang, keamanan dan ketentraman. Pertanyaannya, bolehkah rakyat memberontak kepada pemimpinnya? Jawabnya, Rasulullah melarang pemberontakan kepada pemimpin yang masih melaksanakan shalat sesuai syari’at-Nya.

Oleh karena itu, pada hari kiamat kelak, pemimpin yang adil akan dijanjikan dengan berbagai macam keutamaan oleh Allah taala. Sementara pemimpin zalim dan tidak jujur dalam menjalankan amanahnya akan diancam dengan berbagai macam ancaman.

Di antara bentuk ancaman tersebut adalah sebagai berikut:

1. Dibenci oleh Allah Ta’ala

Dari Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah saw bersabda:

إِنَّ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ عَادِلٌ وَأَبْغَضَ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ وَأَبْعَدَهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ جَائِرٌ

“Sesungguhnya manusia yang paling dicintai oleh Allah pada hari kiamat dan paling dekat kedudukannya di sisi Allah adalah seorang pemimpin yang adil. Sedangkan orang yang paling dibenci oleh Allah dan paling jauh kedudukannya dari Allah adalah seorang pemimpin yang zalim.” (HR. Tirmidzi)

2. Tidak Diampuni Dosa-Dosanya

Sebuah riwayat dari Abu Hurairah radiyallahu anhu menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahualaihi wasallam bersabda:

ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ شَيْخٌ زَانٍ وَمَلِكٌ كَذَّابٌ وَعَائِلٌ مُسْتَكْبِرٌ

“Tiga orang yang Allah enggan berbicara dengan mereka pada hari kiamat kelak. (Dia) tidak sudi memandang muka mereka, (Dia) tidak akan membersihkan mereka daripada dosa (dan noda). Dan bagi mereka disiapkan siksa yang sangat pedih. (Mereka ialah ): Orang tua yang berzina, Penguasa yang suka berdusta dan fakir miskin yang takabur.” (HR. Muslim)

3. Diharamkan Syurga Baginya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَيُّمَا رَاعٍ غَشَّ رَعِيَّتَهُ فَهُوَ فِي النَّارِ

“Siapapun pemimpin yang menipu rakyatnya, maka tempatnya di neraka.” (HR. Ahmad)

Dalam riwayat lain, Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنِ اسْتَرْعَاهُ اللهُ رَعِيَّةً ثُمَّ لَمْ يُحِطْهَا بِنُصْحٍ إِلَّا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الجَنَّةَ. متفق عليه. وفي لفظ : يَمُوتُ حِينَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاسِ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ.

“Barangsiapa yang diangkat oleh Allah untuk memimpin rakyatnya, kemudian ia tidak mencurahkan kesetiaannya, maka Allah haramkan baginya surge.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam lafadh yang lain disebutkan, ”Ialu ia mati dimana ketika matinya itu dalam keadaan menipu rakyatnya, maka Allah haramkan surga baginya.

Tentunya masih banyak riwayat lain yang menyebutkan tentang ancaman Allah ta’ala terhadap para pemimpin yang menzalimi rakyatnya. Bentuk ancamannya pun tidak ada yang ringan, hampir seluruhnya mengingatkan akan besarnya dosa seorang pemimpin ketika dia berbuat zalim kepada rakyatnya. Apalagi ketika ia rela berbohong di hadapan rakyat demi mempertahankan jabatannya.