La Tahzan For Kontraktors’

Posted on 42 views

Muslimpos – Menjelang pernikahan satu hal penting yang menjadi pembahasan insan yang akan hidup bersama yaitu “Tinggal dimana setelah menikah?” bagi mereka yang sudah mapan, yah tinggal nyicil atau langsung cash. Atau bagi yang sudah punya rumah baik dari hasil jeri payahnya sendiri atau pemberian orang tua yahh lebih mudah lagi kan tinggal angkut barang, gak ribet, gak pusing tuju keliling.

Nah, bagi pasangan yang masih berjuang. Bagamana dong? Dan ternyata banyak yang dilema antara “Menetap di pondok indah mertua atau ngontrak?” Wow… how to solve it? ☺
Berhubung saya dan suami juga pasangan muda yang masih berjuang dalam segala hal, asikkk. Yang sebelum menikah juga pernah membahas setelah menikah tinggal dimana? Dan sebelum menjawab pertanyaan urgent tersebut, sebelum menentukan akan tinggal dimana, ternyata yang paling penting adalah saling menyesuaikan agar tidak terjadi ketimpangan, penyesalan dan tidak ada dusta di antara kita ☺ setelah menikah. Yupss apa yang disesuaikan?

Yah, mulai dari aktivitas/kesibukan masing-masing, agar lebih mudah menetukan lokasi dan jarak yang mudah terjangkau dan tidak mengganggu aktivitas/kesibukan kita dan pasangan. Terus apa rencana ke depan setelah menikah, nah kenapa ini juga penting? yah agar kita bisa mencari lokasi yang pas untuk merealisasikan rencana kita dan pasangan pastinya ☺

Setelah percakapan via chat WA yang lumayan panjang, alhamdulillah gak pake berantem, yaa jelasss (gubrak) kan Cuma via chat. Kami sepakat untuk jadi “KONTRAKTOR” haha pasti banyak mengira, woww kaya dong… kyaa, kontraktor alias pasangan muda yang memilih mandiri jalur ngontrak rumah. Meskipun sempat disaranin oleh orang tua untuk tetap tinggal di rumah tapi kami lebih memilih untuk ngontrak dengan berbagai pertimbangan yang mapan tentunya.

Meskipun tidak sedikit yang bertanya “Kenapa terlalu cepat meninggalkan rumah orang tua, kan bisa numpang dulu sambil nabung untuk beli rumah.” “Kenapa mau tinggal di kontrakan yang mahal” yapss kami tahu itu bentuk kepedulian mereka, meskipun kami terlihat keras kepala tapi inilah jalan yang kami pilih toh kami yang menjalaninya, dan masuk bulan ke-4 kami ngontrak yang bagi Kontrakan kami adalah Syurga bagi kami.

Suka duka pasutri baru, canda tawa, tangis, keluh, kesah, impian masa depan, kami menikmatinya. Dan apakah kami menyesal? Alhamdulillah tidak, dan semoga tidak pernah menyesal, justru kami selalu bersyukur. Bagi kami di kontrakan itulah kami bisa saling mendewasakan, saling berproses, saling mengenal lebih dalam, selalu saling menguatkan, yang paling penting dengan hidup hanya berdua dengan pasangan bahwa kita saling membutuhkan satu sama lain, tak ada celah bagi orang lain untuk ikut campur urusan rumah tangga kita, kecuali yah kita sendiri yang memberi ruang untuk orang lain mencampuri kehidupan kita dan pasangan, dan di rumah kontrakan itulah kita benar-benar menyadari bahwa kita harus jadi pakaian untuk pasangan, segala cela dan kurang lebihnya pasangan hanya kitalah yang berhak tahu, kita wajib menutupinya dari orang lain, termasuk keluarga dekat kita.

So, sampai kapan mau ngontrak? Kan enak kalau sudah punya rumah sendiri. ☺ yah disenyumin aja kali yah… sambil minta dido’akan agar dimampukan, atau kali aja tiba-tiba ada yang berbaik hati menawarkan rumahnya Gratis, wkwk gak mustahilkan bagi Allah.

Dalam sebuah buku karya Arinda Shafa dan Wahyu Widyaningrum menuangkan salah satu judul cerita inspiratif untuk pasutri yang tinggal di rumah kontrakan yaitu “La Tahzan for Kontraktors” katanya, Kalaupun saat ini kondisi ekonomi belum stabil. Belum bisa menyisihkan uang untuk mencicil tanah atau material.

Masih berlabel ‘kontraktor’ entah sampai kapan berkesudahan. Jangan berkecil hati karena Dr. Syafiq Riza Basalamah dalam Rumahku Masih Ngontrak menganalogikan bahwa makhluk hidup yang ada di dunia ini semua hanya mengontrak. Sebagus dan seindah apa pun rumah kita saat ini , tak ubahnya rumah kontrakan yang suatu hari nanti harus ditinggal oleh penghuninya karena masa kontrakannya sudah habis.

Ya, sebab semua yang ada di dunia ini titipan Allah yang bersifat sementara. Yang kekal adalah rumah di surga yang keindahannya tak terbayangkan. Rumah abadi yang tak ada keletihan dan hiruk pikuk di dalamnya. Yang bangunannya dari batu bata emas dan perak. Yang kebunnya tidak berhenti berbuah. Yang letaknya tinggi dan sungai-sungai mengalir di bawahnya. Seperti do’a Asiyah istri Fir’aun yang mendambakan sebuah rumah di surga.

“Ya Rabb-ku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu.” (Q.S. At Tahrim:11)

So, La Tahzan for Kontraktors! Sebab di dunia ini tidak hanya kita yang ngontrak tapi semua orang. Tapi ikhtiar dan do’a pun jangan pernah putus semoga sebelum menikmati rumah abadi di syurga semoga kitapun diberikan rezeki oleh Allah untuk “Rumah yang lapang, damai, penuh kasih saying, dan banyak perlengkapannya.” (HR. Abu Dawud)

Wallahu A’lam bishshowab.
Sumber: Wahyu W, Arinda S. La Tahzan For Kontraktors’. Solo: Indiva, 2017.