muslimpos – Dari ‘Abdullah bin ‘Amr ra, bahwasanya Dia pernah menyembelih domba, maka Dia berkata kepada keluarganya: “Apakah kamu sekalian telah memberikan daging kepada tetangga kita yang seorang Yahudi? Karena saya pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: ” Jibril senantiasa menasehatiku tentang bertetangga, sampai-sampai saya mengira bahwasanya tetangga berhak mendapatkan waris.” (HR. Abu Dawud).

Nabi Muhammad dan Yahudi buta di sudut pasar Madinah Al-Munawwarah seorang pengemis Yahudi buta hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata “Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya.”

Setiap pagi Rasulullah saw. mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah saw. menyuapi makanan yang dibawahnya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah saw. melakukannya hingga menjelang Beliau saw. wafat. Setelah kewafatan Rasulullah saw. tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.

Suatu hari Abu Bakar ra. berkunjung ke rumah anaknya Aisyah ra. Beliau bertanya kepada anaknya, “Anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan?“, Aisyah ra. menjawab pertanyaan ayahnya, “Wahai Ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja’. “Apakah itu?”, tanya Abu Bakar ra. Setiap pagi Rasulullah saw selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana”, kata Aisyah ra.

Keesokan harinya Abu Bakar ra. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abu Bakar ra. mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abu Bakar ra. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, “Siapakah kamu?”. Abu Bakar ra. menjawab, “Aku orang yang biasa”. “Bukan!, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, jawab si pengemis buta itu.

Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu berikan padaku dengan mulutnya sendiri”‘ pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abu Bakar ra. tidak dapat menahan air matanya, ia menagis sambil berkata kepada pengemis itu, “Aku memang bukan yang biasa datang kepadamu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah saw.”

Setelah pengemis Yahudi itu mendengar cerita Abu Bakar ra. ia pun ikut menangis, kemudian berkata, “Benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia…” Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abu Bakar.