Shalat sunnah bisa dikerjakan dimana saja, baik itu di masjid, di rumah, dan dimana saja tempat yang kita anggap bersih dan suci. Namun demikian, ternyata shalat sunnah yang terbaik sesuai tuntunan Rasulullah adalah di rumah. Kecuali shalat sunnah yang di syariatkan untuk dikerjakan secara berjamaah, seperti shalat Tarawih. Adapun shalat Tarawih lebih afdal untuk dikerjakan di masjid secara berjamaah.

Sedangkan untuk shalat sunnah yang tidak disyariatkan untuk dikerjakan secara berjamaah, maka dikerjakan di rumah lebih baik, hal tersebut dikuatkan oleh sebuah hadits yang menjelaskan bahwa shalat sunnah dirumah lebih dianjurkan. Diantara hadits yang menganjurkan shalat sunnah di rumah adalah hadits Zaid bin Tsabit :

عن زيد بن ثابت رضي الله عنه أنّ رسول الله صلى الله عليه وسلّم قال : (( عَلَيْكُمْ بِالصَلَاةِ فِيْ بُيُوْتِكُمْ ، فَإِنَّ خَيْرَ صَلَاةِ المَرْءِ فِيْ بَيْتِهِ إلَّا الصَلَاةَ المَكْتُوْبَةَ ))

Dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaknya kalian mengerjakan salat di rumah-rumah kalian, karena sesungguhnya sebaik-baik salat seseorang adalah di rumahnya, kecuali salat maktubah (fardhu)”. (Muttafaq ‘alaih : Al bukhari, no. 731 dan Muslim, no. 781)

Ada juga hadits Jabir dan Ibnu ‘Umar yang semuanya menunjukkan bahwa sebaik-baik shalat itu dikerjakan di dalam rumah, kecuali shalat wajib.

Kesimpulan :

Adapun hikmah dan manfaat dengan mengamalkan shalat-shalat sunnah di rumah, di antaranya adalah :

  • Menghidupkan sunnah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
  • Memudahkan untuk meraih keikhlasan yang lebih sempurna dan pahala yang lebih besar.
  • Termasuk manfaat besar melaksanakan shalat sunnah di rumah adalah menjadikan rumah selalu hidup dan bercahaya serta menjadi motivasi bagi para penghuninya untuk giat melakukan ketaatan kepada Allah

 

Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

مَثَلُ البَيْتِ الَذِي يُذْكَرُ اللهُ فِيْهِ وَالبَيْتِ الذِي لَايُذْكَرُ اللهُ فِيْهِ كَمَثَلِ الحَيِّ وَالمَيِّتِ

“Perumpamaan rumah yang disebut nama Allah di dalamnya, dan rumah yang tidak disebut nama Allah di dalamnya adalah seperti perumpamaan orang yang hidup dan orang yang mati.”

Wallahu a’lam